Aku Ingin Pergi Jauh......( surat untuk istri di Negeri Awan Biru )

Diposting oleh sikret_etmayer | 03.48

Istriku, jika engkau membaca surat ini pasti tersenyum dan mengejekku dari balik awan : bagaimana rasanya hidup sendiri? Tak pernah kubayangkan, kepergianmu ternyata membuat dadaku seperti kosong. memang engkau telah kembali ke rumah Bapa dengan damai, namun sejujurnya aku terkadang belum percaya. Sering aku merasa engkau hanya pergi arisan, ke pasar, bertandang ke rumah tetangga, dan akan pulang saat aku duduk nonton televisi menunggumu.

Tiga puluh tahun kita hidup bersama. Tak pernah sekalipun dari mulutku dan mulutmu terucap kata cinta. Tidak ada selembar pun surat cinta yang kukirim maupun engkau kirim. Cinta bagi kita bukan kata verbal dan tulisan tanpa makna! Meski secara ekonomi kita mestinya selalu berlinang air mata, namun hari - hari awal adalah hari - hari penuh bahagia. Meski kita mengontrak kamar kecil, mengontrak rumah reyot, dan akhirnya punya gubug sendiri, kita selalu tersenyum dan tertawa. Apalgi Bapa lalu memberi kita dua anak. Hidup ini sepertinya jadi lengkap. Mestinya begitu, istriku. Tetapi apa yang terjadi?

Ternyata aku bukan lelaki ideal untukmu. Engkau ingin agar sepulang kerja, aku duduk manis disampingmu. Memberikan seluruh jiwa raga untuk kamu dan anak - anak kita. Hal itu ternyata tak bisa kulaksanakan. Garis takdir seolah membabtisku untuk menjadi seorang penulis. Ini sebuah dunia yang mengerikan, dan engkau tak pernah tahu. Dirumah pikiranku mengembara kemana- mana; kubentuk sebuah dunia dari alam imajinasi; kuciptakan tokoh - tokohnya; dan aku sering terseret untuk selalu menemani mereka. Maka berkali - kali engkau menuduhku : kamu tidak pernah dirumah! Pikiranmu melayang - layang tidak karuan! Yang duduk disampingku ini tidak lebih dari patung yang hidup.

Ya, ya, tuduhanmu benar. Aku terlalu asyik dengan dunia rekaanku. Namun itulah sebenarnya sumber rejeki kita. Tetapi kamu sebenarnya tidak bisa menerima. Ada keinginanku untuk meninggalkan saja pekerjaan menulis dan menjadi pegawai biasa. Tetapi jika itu terjadi, aku seperti orang yang mati. Imajinasiku ini tak bisa dikungkung. Siang malam diotakku berseliweran puluhan tokoh yang ingin dihidupkan dan membentuk dunianya sendiri. Akhirnya kamu juga tahu, ternyata berkali - kali aku menang dalam sayembara lomba penulisan.

Tetapi tiga puluh tahun hidup dalam 'dunia aneh' ternyata melelahkan. Aku mulai lelah, engkau pun begitu. Berkali - kali engkau mengatakan ingin pergi jauuuhh. Kemana? engkau tidak menjawab pasti. Pokoknya pergi jauh. Tidak kemalang, tempat tinggal anak dan cucu kita. Tidak ke kota lain karena kita tidak punya saudara disana. Jadi, tempat jauh itu adalah Negeri Awan Biru, tempat para malaikat setiap hari bermazmur merdu. Benarkah, istriku?

Setelah kita merayakan pesta perkawinan perak perkawinan, tiba - tiba engkau disergap kanker ganas dirahimmu. Hari - hari kita menjadi mencemaskan, penuh tanda tanya. Pada saat sepi malam menyergap dan rasa gelisah sebagai hantu menakutkan, ada radio tua yang dengan setia menemanimu dengan siaran - siarannya.

Hari - hari kemudian berjalan sangat melelahkan. Engkau hampir menyerah kala itu. Tetapi aku mengajakmu untuk tawar menawar dengan Sang Pencipta. Engkau boleh mati asal dua permintaaku dikabulkan oleh-Nya. Pertama, engkau boleh menyaksikan anak bungsu kita diwisuda sebagai sarjana. Kedua, engkau boleh menunggui cucu kita disunat. Dan ternyata Dia mengabulkan! Tetapi setelah itu, ternyata Dia pun memberi tanda - tanda akan mengambilmu dari sisiku. Tiba - tiba engkau ingin membuat foto berwarna ukuran 10R. Untuk kesekian kali engkau mengutarakan niatmu ingin pergi ketempat yang jauh. Aku bukan paranormal, namun secara tersirat aku bisa menangkap bahwa tanda - tanda engkau akan dipanggil Bapa sudah tampak. Pelan - pelan aku menyiapkan hatiku dan memberi 'warning' kepada anak - anak.

Maka ketika paru - parumu dipenuh akar kanker, tanda - tanda itu semakin jelas bagiku : Dia akan segera merenggut dirimu dari tengah - tengah suami, anak dan cucumu. Semakin hari tubuhmu semakin lemah. Itulah saat - sat yang berat agar aku segera mengambil keputusan : kubiarkan tubuhmu kalah tetapi tidak dengan jiwamu. Jiwamu harus kuat, imanmu harus tetap kokoh. Engkau boleh pergi asal yang menjemput adalah Lelaki dari Nazaret bernama Yesus. Engkau boleh pergi asal yang mendampingi dirimu adalah Perawan Suci bernama Maria.

Pagi itu tanggal 17 oktober. Dari arah masjid terdengar suara adzan subuh. Sungguh pagi yang damai. Masih ingat, baru kemarin malam cucumu sambil memegang tanganmu berdoa Litani Tubuh Kristus untuk memohon kesembuhanmu. Kira - kira tiga malam yang lalu dari mulutmu terucap kata - kata dahsyat : Bapa, kedalam tangan-Mu kuserahkan diriku! Engkau meniru ucapan Yesus waktu tergantung di kayu salib beberapa saat sebelum maut menjemput. Dan pagi itu kuraba lutut dan tanganmu terasa dingin. Pandangan matamu sudah kosong. Nafasmu tersengal - sengal meski telah kuberi bantuan oksigen. Pukul 5.30 engkau meminta teh hangat. Kubuatkan apa yang kau pinta. Hatiku berkata pasti, itulah permintaanmu yang terakhir. Anak - anak, menantu dan cucumu kubiarkan tetap terlelap.

Hanya sekali sedot saja teh hangat itu masuk ke dalam mulutmu. Nafasmu segera naik ke tenggorokkan. Berkali - kali kubisikkan nama Yesus di telingamu. Engkau mengerti dan mengangguk. Dalam hati aku mohon agar Sang Perawan Maria sendiri yang datang mendampingimu saat menghadap Bapa. Lalu engkau menarik nafas panjang dan kau hembuskan kuat - kuat. Hanya tiga kali tarikan nafas, lalu selesai. Dunia terasa sangat sunyi saat kurapikan kedua kaki kedua tangan dan kukatupkan mulutmu. Engkau telah benar - benar pergi jauhhhh....

Tiga puluh tahun istriku.Kita jadi pasangan yang aneh. Kita tidak pernah salaing mengucap cinta, kita tidak pernah saling memuji, namun kita selalu berpegang pada komitmen : setia dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, tak terpisahkan sampai maut sendiri yang memisahkan kita.

Sekarang semua itu sudah engkau tinggalkan. Engkau sudah berada di Negeri Awan Biru yang indah. Bolehlah karena itu, dengan malu - malu ( sebab aku tak terbiasa merayu ) aku memujimu dengan mengutip kitab Kidung Agung : Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu dibalik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead. Cantik engkau, manisku, seperti kota Tirza, Juwita seperti Yerusalem, dasyat seperti tentara dengan panji - panjinya. Palingkanlah matamu dari padaku, sebab aku menjadi bingung karenanya. ( Kid 4:1 ; 6:4-5 )

Ya, ya akan kukenang saat dirimu muda dan cantik. Saat usiamu matang dan tubuhmu padat berisi, lalu akan kuhapus kenangan saat tubuhmu kurus dan lemah. Di Negeri Awan Biru, kecantikanmu pasti semakin bersinar, karan setiap saat engkau bisa memandang sinar Ilahi dari wajah-Nya yang kudus.

Istriku, jika engkau membaca surat ini pasti tersenyum dan mengejekku dari balik awan : bagaimana rasanya hidup sendiri? Tak pernah kubayangkan, kepergianmu ternyata membuat dadaku seperti kosong. memang engkau telah kembali ke rumah Bapa dengan damai, namun sejujurnya aku terkadang belum percaya. Sering aku merasa engkau hanya pergi arisan, ke pasar, bertandang ke rumah tetangga, dan akan pulang saat aku duduk nonton televisi menunggumu.

Tiga puluh tahun kita hidup bersama. Tak pernah sekalipun dari mulutku dan mulutmu terucap kata cinta. Tidak ada selembar pun surat cinta yang kukirim maupun engkau kirim. Cinta bagi kita bukan kata verbal dan tulisan tanpa makna! Meski secara ekonomi kita mestinya selalu berlinang air mata, namun hari - hari awal adalah hari - hari penuh bahagia. Meski kita mengontrak kamar kecil, mengontrak rumah reyot, dan akhirnya punya gubug sendiri, kita selalu tersenyum dan tertawa. Apalgi Bapa lalu memberi kita dua anak. Hidup ini sepertinya jadi lengkap. Mestinya begitu, istriku. Tetapi apa yang terjadi?

Ternyata aku bukan lelaki ideal untukmu. Engkau ingin agar sepulang kerja, aku duduk manis disampingmu. Memberikan seluruh jiwa raga untuk kamu dan anak - anak kita. Hal itu ternyata tak bisa kulaksanakan. Garis takdir seolah membabtisku untuk menjadi seorang penulis. Ini sebuah dunia yang mengerikan, dan engkau tak pernah tahu. Dirumah pikiranku mengembara kemana- mana; kubentuk sebuah dunia dari alam imajinasi; kuciptakan tokoh - tokohnya; dan aku sering terseret untuk selalu menemani mereka. Maka berkali - kali engkau menuduhku : kamu tidak pernah dirumah! Pikiranmu melayang - layang tidak karuan! Yang duduk disampingku ini tidak lebih dari patung yang hidup.

Ya, ya, tuduhanmu benar. Aku terlalu asyik dengan dunia rekaanku. Namun itulah sebenarnya sumber rejeki kita. Tetapi kamu sebenarnya tidak bisa menerima. Ada keinginanku untuk meninggalkan saja pekerjaan menulis dan menjadi pegawai biasa. Tetapi jika itu terjadi, aku seperti orang yang mati. Imajinasiku ini tak bisa dikungkung. Siang malam diotakku berseliweran puluhan tokoh yang ingin dihidupkan dan membentuk dunianya sendiri. Akhirnya kamu juga tahu, ternyata berkali - kali aku menang dalam sayembara lomba penulisan.

Tetapi tiga puluh tahun hidup dalam 'dunia aneh' ternyata melelahkan. Aku mulai lelah, engkau pun begitu. Berkali - kali engkau mengatakan ingin pergi jauuuhh. Kemana? engkau tidak menjawab pasti. Pokoknya pergi jauh. Tidak kemalang, tempat tinggal anak dan cucu kita. Tidak ke kota lain karena kita tidak punya saudara disana. Jadi, tempat jauh itu adalah Negeri Awan Biru, tempat para malaikat setiap hari bermazmur merdu. Benarkah, istriku?

Setelah kita merayakan pesta perkawinan perak perkawinan, tiba - tiba engkau disergap kanker ganas dirahimmu. Hari - hari kita menjadi mencemaskan, penuh tanda tanya. Pada saat sepi malam menyergap dan rasa gelisah sebagai hantu menakutkan, ada radio tua yang dengan setia menemanimu dengan siaran - siarannya.

Hari - hari kemudian berjalan sangat melelahkan. Engkau hampir menyerah kala itu. Tetapi aku mengajakmu untuk tawar menawar dengan Sang Pencipta. Engkau boleh mati asal dua permintaaku dikabulkan oleh-Nya. Pertama, engkau boleh menyaksikan anak bungsu kita diwisuda sebagai sarjana. Kedua, engkau boleh menunggui cucu kita disunat. Dan ternyata Dia mengabulkan! Tetapi setelah itu, ternyata Dia pun memberi tanda - tanda akan mengambilmu dari sisiku. Tiba - tiba engkau ingin membuat foto berwarna ukuran 10R. Untuk kesekian kali engkau mengutarakan niatmu ingin pergi ketempat yang jauh. Aku bukan paranormal, namun secara tersirat aku bisa menangkap bahwa tanda - tanda engkau akan dipanggil Bapa sudah tampak. Pelan - pelan aku menyiapkan hatiku dan memberi 'warning' kepada anak - anak.

Maka ketika paru - parumu dipenuh akar kanker, tanda - tanda itu semakin jelas bagiku : Dia akan segera merenggut dirimu dari tengah - tengah suami, anak dan cucumu. Semakin hari tubuhmu semakin lemah. Itulah saat - sat yang berat agar aku segera mengambil keputusan : kubiarkan tubuhmu kalah tetapi tidak dengan jiwamu. Jiwamu harus kuat, imanmu harus tetap kokoh. Engkau boleh pergi asal yang menjemput adalah Lelaki dari Nazaret bernama Yesus. Engkau boleh pergi asal yang mendampingi dirimu adalah Perawan Suci bernama Maria.

Pagi itu tanggal 17 oktober. Dari arah masjid terdengar suara adzan subuh. Sungguh pagi yang damai. Masih ingat, baru kemarin malam cucumu sambil memegang tanganmu berdoa Litani Tubuh Kristus untuk memohon kesembuhanmu. Kira - kira tiga malam yang lalu dari mulutmu terucap kata - kata dahsyat : Bapa, kedalam tangan-Mu kuserahkan diriku! Engkau meniru ucapan Yesus waktu tergantung di kayu salib beberapa saat sebelum maut menjemput. Dan pagi itu kuraba lutut dan tanganmu terasa dingin. Pandangan matamu sudah kosong. Nafasmu tersengal - sengal meski telah kuberi bantuan oksigen. Pukul 5.30 engkau meminta teh hangat. Kubuatkan apa yang kau pinta. Hatiku berkata pasti, itulah permintaanmu yang terakhir. Anak - anak, menantu dan cucumu kubiarkan tetap terlelap.

Hanya sekali sedot saja teh hangat itu masuk ke dalam mulutmu. Nafasmu segera naik ke tenggorokkan. Berkali - kali kubisikkan nama Yesus di telingamu. Engkau mengerti dan mengangguk. Dalam hati aku mohon agar Sang Perawan Maria sendiri yang datang mendampingimu saat menghadap Bapa. Lalu engkau menarik nafas panjang dan kau hembuskan kuat - kuat. Hanya tiga kali tarikan nafas, lalu selesai. Dunia terasa sangat sunyi saat kurapikan kedua kaki kedua tangan dan kukatupkan mulutmu. Engkau telah benar - benar pergi jauhhhh....

Tiga puluh tahun istriku.Kita jadi pasangan yang aneh. Kita tidak pernah salaing mengucap cinta, kita tidak pernah saling memuji, namun kita selalu berpegang pada komitmen : setia dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, tak terpisahkan sampai maut sendiri yang memisahkan kita.

Sekarang semua itu sudah engkau tinggalkan. Engkau sudah berada di Negeri Awan Biru yang indah. Bolehlah karena itu, dengan malu - malu ( sebab aku tak terbiasa merayu ) aku memujimu dengan mengutip kitab Kidung Agung : Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu dibalik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead. Cantik engkau, manisku, seperti kota Tirza, Juwita seperti Yerusalem, dasyat seperti tentara dengan panji - panjinya. Palingkanlah matamu dari padaku, sebab aku menjadi bingung karenanya. ( Kid 4:1 ; 6:4-5 )

Ya, ya akan kukenang saat dirimu muda dan cantik. Saat usiamu matang dan tubuhmu padat berisi, lalu akan kuhapus kenangan saat tubuhmu kurus dan lemah. Di Negeri Awan Biru, kecantikanmu pasti semakin bersinar, karan setiap saat engkau bisa memandang sinar Ilahi dari wajah-Nya yang kudus.

1 komentar
  1. Money Online 24 Juli 2008 pukul 18.58  

    Wah, sedih bro bacanya.. tetep semangat ya...